Perihal Senja
Agustus 22, 2017
Aku menyukai
senja seperti halnya aku membenci senja itu juga. Benar bahwa aku menyukai
seperti halnya aku pun membencinya. Ketika senja memberiku banyak harapan akan hidup,
ketika itu pula senja meninggalkanku dengan segala buih-buih harapan yang telah ia
berikan padaku. Ia mengajarkan tuk menghargai waktu sebelum semuanya
berakhir semata dan saat itu pula ia dengan mudahnya memberiku isyarat tuk
mundur dalam segala hal yang membuatku merasa nyaman dengannya. Tak lepas dari
semua itu, aku memiliki milyaran sajak untuk mengukir kehebatan senja kerana
kau adalah milikku seutuhnya. Intuisi yang aku miliki melebihi yang orang lain
miliki dan aku percaya diriku. Perihal senja, sebut saja hingga saat ini kau adalah milikku. Tak peduli
berapa banyak kenyataan yang membuatku terjatuh dikeheningan gelapnya malam.
Akan tetapi, inginku satu sahaja bahwa tak bisakah kau menutupi segala kenyataan pahit yang terus
menggerogoti pikiranku? Membuatnya tak nampak begitu sangat kasar dihadapanku. Hanya aku, kau menghancurkan segala kepingan harapan dan mimpi
yang aku punya dengan begitu saja. Menghembuskan segalanya demi memuaskan dirimu sahaja. Ketika aku masih setia dengan segala
harapanku di langit bebas, kau tetap beranjak pergi dari duniaku tanpa menoleh
sedikitpun ke arahku. Ketetapan bahwa aliran di tubuhmu terbaca dengan jelas
diselimuti oleh segala egoisme yang menamparku jauh ke dasar samudra. Walau hanya
untuk menengok sedikit padaku pun kau tak pernah peduli. Tak salah jika aku memanggilmu
selalu dengan sapaan senja yang jahat. Di laut lepas berselimuti pasir putih, aku berteriak dengan sekencang yang aku bisa sembari meneriakkan, "Kau benar-benar jahat, Senja". Di dunia ini, tanpa kau ketahui bahwa akulah satu-satunya wanita
terbodoh perihal kau, senja. Kebodohanku kerana aku tetap saja berpihak seperti
sedia kala, seakan tak ada yang terjadi, semuanya baik-baik saja, seperti itu dan tak ada yang berbeda sedikitpun. Dengan segenap keteguhan hatiku, berharap bahwa kau dapat menerjemahkan cukup satu dari milyaran sajak
yang pernah kusampaikan padamu. Berharap bahwa suatu saat teriakan yang terbesar dariku dapat menembus telinga kehidupanmu, walau kejujuran pahit menghantuiku bahwa itu tak akan bisa. Sejatinya, senjaku telah terselimuti dengan segala ketetapan dari hatinya tersendiri. Aku hanya berperan tuk menjadi penonton setiamu di tengah perjalananku ini. Dengan harapan bahwa sebuah hal lain bisa membuatku lupa akan segala hal perih yang pernah aku rasakan.

0 komentar