MIMPI, SEJAUH MANA KAU AKAN BERLABUH?

November 06, 2017


Hujan kali ini terasa amat syahdu. Membawa aura tersendiri bagiku, tak seperti biasanya. Kali ini, tampak benar bahwa aku sangat sangatlah bahagia. Bagaimana tidak? Sesuatu yang tak kuduga akhirnya datang padaku. Walau pada beberapa bulan terakhir aku telah mencoba mengurungkan niatku, mengubur salah satu dari mimpi terbesar yang kumiliki. Sesuatu yang tak kusangka tiba datang mengejutkanku dan membuatku kembali berharap akan suatu saat mimpiku akan benar-benar terjadi. Betapa bahagianya, walau masih nampak belum jelas. ha-ha.

Selama berada di dunia perantauan, bagiku meluangkan waktu untuk satu hal ini terpenting dari segala kegiatanku disini. Sebut saja, perantauan membuatku untuk menambahkan satu pada listku, yakni menelepon orang tua. Bagiku, diantara segalanya adalah ini yang terbaik. Sebab itulah, menelepon beliau menjadi salah satu rutinitas terpenting dalam hidupku. Walau hanya bertukar kabar atau mungkin tidak lebih. Karena sebuah dosa terbesar menurutku jikalau disaat aku memiliki waktu luang dan tidak menyisihkan sedikitpun untuk mengabari mereka, bahkan untuk sehari saja. Arrgh, how pity i am.

Hari ini berbeda, udaranya dingin saat Jogja sendiri tengah diguyur hujan beberapa hari terakhir. Sudah terbilang dua kali aku meneleponnya hanya dalam sehari. Pertama, saat aku menanyakan mengenai buku ku yang tertinggal di kamar rumahku. Kedua, hasil pencapaianku dalam mengikuti suatu kegiatan yang baru saja diselenggarakan. Aku bahagia hingga aku tak sanggup mengutarakannya pada ibuku. Bagiku, setelah melewati berbulan-bulan yang hanya kuisi dengan apa yang seharusnya kulakukan. Akhirnya membuahkan hasil bagiku. Walau it's not the real result, hehe.

Beberapa saat setelah aku bercerita, ibuku pun langsung bercerita juga. Kukira ia akan mengucapkan seperti "selamat", maybe. Tidak tidak. Bagiku yang beliau ucapkan jauh lebih membuatku bahagia. Disaat dahulu aku harus belajar merelakan dan juga melepaskan mimpi terbesar yang kumiliki, mimpi yang kulahirkan sejak SMP hingga SMA, mimpi yang menjadikanku tetap semangat menjalani hariku dimasa SMA, terlebih mimpi yang membuatku hingga berani keluar dari zona nyamanku tersendiri. Ah sungguh tak kusangka bahwa aku akan secepat itu menyerah. Tetapi pun tak kusangka akan secepat itu bangkit kembali.

Dunia terasa sedang tersenyum manis padaku. Dan aku merasa tak ingin membiarkan dunia marah walau sekalipun terhadap aku. Sungguh rasanya ingin berlama-lama menikmati senyum indahnya hidup ini. Walau mentari terlihat agak malu menampakkan senyumnya, tetapi aku yakin bahwa hujan kali ini turun atas dasar ia sungguh terharu melihatku. Sebab hatiku cukup kuat mengubur mimpi terbesarku saat itu. Hingga rasanya aku tidak tahu menahu apa yang akan aku lakukan saat aku benar-benar tidak memiliki pegangan atas mimpi itu. Mimpi yang terlihat agak konyol tetapi aku menyukainya. Sebab aku ingat jelas saat omaku kali pertama menceritakan setengah dari kisah Pak Habibie yang mana membuatku terinspirasi menjadi seperti beliau. Sayangnya, aku ingin menjadi seperti beliau dengan diriku sendiri dan dengan genre yang berbeda.

Pun aku terinspirasi oleh beberapa orang yang kukenali, menjadi sebuah tonggak bagiku untuk tetap berjuang. Kakakku mengenalkanku pada beliau, yang mana terlahir dengan sejuta mimpi besar. Sebut saja, kak X. Wow, aku sampai tak kuasa untuk sharing bersamanya mengenai beberapa hal besar yang mana tak pernah kudiskusikan pada orang lain. Bagiku, ia adalah inspirator sendiri dalam hidupku. Tapi jangan sampai salah tafsir, hehe.

Aku masih ingat jelas dengan detail mimpiku. Seperti halnya menjadi traveller yang bisa berkelana hingga ke ujung dunia dengan menebarkan manfaat pada banyak orang. Menjadi author yang bisa melukiskan setiap hal kecil yang mana membuat orang dapat terinspirasi. Pastinya akan mengarah tuk menjadi seorang inspirator yang dapat diandalkan. Menjadi bagian dari keluarga besar PPI dunia. Walau membenci hal dibidang kedokteran, tetapi aku berharap suatu saat aku bisa mengobati orang banyak. Bagian dari UNICEF in this world. Gila, ini membuatku nampak gila dihadapan orang tuaku bahkan beberapa orang yang secara tidak sengaja membaca bukuku. Sebenarnya jika kusebutkan, terkadang orang akan membuatku mati dalam mimpiku sendiri. Terjatuh dan hanyut dalam mimpi. Sebab itulah aku memilih untuk tidak mempercayai sembarangan orang dalam hal bercerita secara utuh dan seutuh mungkin.

Hingga saat ini, walau aku telah menguburkannya tetapi aku tidak benar-benar menguburnya. Kukira kau tahu tanpa aku harus menjelaskannya, thats what i mean. Karena mimpi itulah yang membuatku terbang ke angkasa, membuka mata, melihat ke sekeliling, menyenangi hal yang berbau tulisan, selalu mengabadikan setiap moment, dan berkelana sejauh mungkin hingga saat aku benar-benar siap untuk kembali memberi perubahan. Bagiku, tidak ada yang menjadi penghalang lagi saat ini. Bahkan sebagai muslimah pun tidak dapat mengubur mimpiku. Hanya saja kecuali, aku memang tidak ditakdirkan untuk itu. Aku sempat berpikir, mengapa tidak menjadi muslimah yang hebat dengan melanjutkan mimpi itu? Sebuah cita-cita dari orang kecil sepertiku. Hingga pada akhirnya, aku selalu membuatnya -mimpiku- tampak indah dimataku sendiri.

Ibu kembali mengingatkanku pada mimpi besarku. Menanyakan bagaimana persetujuanku untuk satu hal itu. Tanpa basi-basi, rasanya sangat ingin menangis saat ibu menawarkanku hal seperti itu. Padahal dahulunya, karena suatu kondisi yang tak memungkinkan dengan ibu itulah membuatku mengurungkan niatku atas mimpiku. Seketika aku ingin melanjutkan mimpi indah ditidurku saat mendengarkan perkataan ibu.

Satu hal yang kutahu, tak ada salahnya bermimpi tinggi. Saat aku menemukan diriku -walau tidak seutuhnya-, tapi aku percaya bahwa tidak ada yang bisa menjatuhkan kita atas mimpi kita. Ingin menjadi traveller itu tidaklah mudah, karena bagiku sebuah tanggung jawab besar sedang kupikul. Ialah tak lain membuka diriku untuk lebih dalam melihat dunia yang lebih nyata. Sebenarnya terlebih pada kesiapan dan kesanggupanku akan beberapa hal yang tak dapat aku prediksi dimasa yang akan datang. Pun selain bersosialisasi, aku memang lebih pandai menutup diri. Tetapi saat kutemukan diriku, aku mengira bahwa itu berimbang. Siapa sangka? Tidak, aku hanya bergurau.

Aku menyukai tiap orang yang merasa dikecilkan dan juga terkecilkan oleh masyarakat lainnya. Mengapa? Karena aku lebih percaya bahwa mereka jauh lebih memiliki mimpi yang sangat besar dibanding yang lainnya. Bukan mimpi besar yang hanya ingin menjadi guru, dosen, dokter, ilmuwan, dsb. Tetapi mimpi yang disertai ambisi yang sangat kuat. Aku pernah disadarkan oleh beberapa orang yang kutemui sebelumnya, kehidupan yang keras mengajarkan mereka untuk berani bermimpi dan mengambil resiko dalam hidup. Dan nyatanya, aku tidak ingin kalah oleh mereka. Bagiku, walau mimpiku terkadang hanyalah bersifat khayalan semata bagi dunia orang lain, tetapi aku berbeda. Nyatanya, aku tak selalu ingin menjadi "sama" dengan lebih banyak orang. Berbeda mengajarkan arti kesungguhan dalam the real life, i mean.

"Indah mau kuliah di x?", tanya ibu dengan nada seolah beliau sangat tahu akan ingin kemana aku sebelumnya saat memilih untuk menetap disalah satu tempat. Mimpi oh mimpi, semoga kau tak hanya sekadar mimpi. Saat aku menanyakan bahwa akankah aku mendapat izin serta restu dari kalian -orangtuaku-, seketika itu pula ibu dengan sederhananya menjawab bahwa ibu mengizinkan asal kamu benar-benar ingin serius. Keseriusan tak perlu lagi ditanyakan, karena tak ada keraguan dariku sendiri. Dengan merasa sangat percaya diri, hehe. Hanya saja, aku terus bertanya bahwa akan sejauh mana mimpiku berlabuh? Akankah ia tiba dalam dunia nyata, atau hanya bersemayam didalam tidur sebagai bunga tidurku? Entahlah. Kurasa, Tuhan akan menjawabnya.

Kuharap setelah saat ini dimana aku memulai untuk melanjutkan mimpi yang sempat aku kuburkan dimasa lalu. Melainkan menjadi sebuah jalan bahkan arah yang sebenar-benarnya jalanku setelah melewati penantian ditengah harapan. Karena merelakan dan melepaskan mimpi itu tidak cukup mudah bagi seseorang sepertiku. Membutuhkan energi yang besar serta waktu yang cukup lama disertai dengan alasan yang rasional untuk membiarkannya berlalu. Apalagi melepaskan julukan "scholarship hunter" dalam hidupku. Terasa jauh lebih menyedihkan disaat flu dan batuk melandaku.

Hujan telah usai, semoga saja tidak ada pemadaman listrik setelah ini. Cerita dari salah satu part dalam mimpiku usai disini. Kuharap akan ada cerita nyata setelah ini. Hingga aku tahu bahwa mimpiku berlabuh teramat sangat jauh.

yakında görüşürüz.
DIY, November 6, 2017

You Might Also Like

0 komentar