Pemimpin itu Menulis [PART 1]

Juli 06, 2017

Saat ketika pertama kali saya mendengar kalimat dari salah seorang bapak yang merupakan warga dari salah satu daerah ditempat saya berteduh. Disaat saya menikmati manisnya suguhan teh anget buatan mbak di warung pojok, sosok beliau datang menghampiri dan mengatakan, "Kelihatannya kamu diam saja, apa kamu tidak mau mengutarakan sepatah kata pun, Nak? Kelihatannya kamu sibuk dengan balpoin yang kamu pegang itu. Dengan senjata yang kamu pegang itu, kamu bisa menjadikan dirimu sebagai orang yang besar". Saya pun kaget seketika. Ya, bisa dibilang jantung yang ada di tubuh saya memang agak susah dikontrol, jadi tidak salah ketika hanya hal sedikit saja dan saya langsung kaget seketika. Saya tersenyum, menganggukkan kepala dan tetap menikmati suasana tadi. Sejatinya, saya memang tipe sosok gadis dimana lebih menyukai tak ada sama sekali suara dibandingkan dengan keributan. Mengapa tidak? Menurut saya, sunyi itu tenang. Saya menyukai diam, hening dan tak bersuara. Hanya mengira saja bahwa dengan begitu, saya bisa mengekspresikan segala hal didalam pikiran saya dengan jauh lebih spektakuler ditemani dengan imajinasi-imajinasi yang melambung tinggi.

Kelanjutan dari pembicaraan tadi sebenarnya masih panjang. Membutuhkan waktu beberapa lama jikalau ingin menuangkannya ke dalam tulisan ini. Akan tetapi, bagaimana dengan judul yang telah saya paparkan tersebut? Saya menyempatkan waktu tuk bertanya-tanya kepada beliau, "Jikalau seandainya pemimpin hanya menulis saja, lantas bagaimana ia memajukan agama, bangsa dan bahkan negaranya sendiri?", tanyaku dengan wajah polos.

Saya diam, merasa bahwa saya mempunyai memori kuat akan hal yang berkaitan dengan itu. Buku. Ya, buku. Saya juga sempat meluangkan waktu tuk membaca buku di salah satu perpustakaan di daerah itu. Saya mengerti sedikit hal, dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai kehidupan yang lebih luas juga. Mengutip dari salah satu buku yang pernah saya baca juga sebelumnya, diterangkan bahwa menulis bukanlah suatu hal yang berada jauh dibawah berbicara. Tidak berbicara bukan berarti bodoh. Tak sedikit orang yang berpandangan seperti itu jikalau berbicara soal 'realita'. Lantas bagaimana dengan judul tersebut? Sembari mengulang pertanyaan sebelumnya.

Raut wajah bapak itu memberikan suatu isyarat tertentu, saya bisa membacanya. Seketika pula saya mendapat bayangan jawaban dari pertanyaan yang sempat saya ajukan tersebut. Menangkap dari gerak-gerik serta raut wajah beliau, saya bisa menyimpulkan dan dibantu oleh beberapa sumber yang pernah saya baca dulu. Dan juga sejatinya, saya adalah sosok dimana terdapat banyak hal yang menjadi pokok pertanyaan saya sejak dulu akan tetapi kerap kali hati dan pikiran saya tuk bergegas keras menyelesaikannya dengan sendiri terlebih dahulu. Menulis merupakan suatu cara dimana seseorang dapat mengekspresikan ide, gagasan, serta cita-cita tentang masa depan mereka. Dimana dengan hal tersebut, mereka dapat mewariskan suatu hal dari generasi ke generasi selanjutnya dan tentunya mereka dapat mengabadikan segala catatan kehidupan yang mereka miliki.

"Kamu mengerti, saya takjub", gumam bapak tersebut.

Suatu kebanggaan ketika beliau seseorang yang tak saya kenali bisa mengatakan hal seperti itu pada saya. Thats for the first time for me to hear that. Ya, mau bagaimana lagi, saya hanya orang biasa, kecil dan tak punya apa-apa di kampung halaman saya. Dengan senang hati, saya bersyukur karena merasa sangat dihargai oleh beliau. Saya tak pernah tahu bahwa beliau bukanlah masyarakat biasa saja, beliau adalah salah satu orang penting di daerah bahkan di provinsi itu sendiri........ (bersambung)



You Might Also Like

0 komentar