SENJA DI KALA HUJAN BULAN JUNI
Agustus 01, 2017
Rasanya
sudah terlalu lama semenjak aku memilih untuk pergi menjauh dari kehidupanku
dahulu. Dapatkah kita berbincang sejenak? Seraya menikmati seduhan teh hangat
kesukaanmu di warung pojok jalan itu. Berbicara perihal perasaan, tentang
bagaimana aku mematikan perasaanku sendiri di kota ini. Waktu yang selalu saja
meluangkan dirinya tuk menyapaku. Kau selalu benar, disini aku tengah belajar
tuk bagaimana mematikan perasaanku sendiri walau hasilnya tak kunjung membaik. Kupikir
waktu yang akan senantiasa menghapus segala sesak yang dahulu menyelimuti
perasaanku dan disertai sepoian angin yang akan membawa jauh pergi namamu. Namun
aku menyerah dengan kenyataan yang ada, kita hanya semakin jauh tak terjangkau,
tapi perihal perasaanku tetaplah sama hingga saat ini.
Suatu petang di kala hujan di bulan
Juni, kau mengirimkan sinyal yang sungguh benar-benar tak dapat kujawab dengan
sendirinya. Berharap kau dapat mengerti akan maksud dariku atau mungkin tidak
sama sekali. Aku telah bersahabat lama dengan waktu, kerananya aku mengerti
banyak hal dalam hidupku sendiri. Maka dengan segenap hatiku, kubiarkan sang
waktu terbang berkelana sejauh mungkin hingga ia benar-benar tahu dan bagaimana
melaksanakan tugasnya.
Maaf yang setiap saat terucap dari bibirku, berharap kau bisa menerjemahkan
sinyal yang kukirimkan lewat sahabat terbaikku, sang waktu. Namun tidak, aku
tidaklah mengemis akan kau memiliki waktu buatku untuk hal satu itu, aku
bukanlah pengemis waktu terlebih padamu. Percayalah. Tapi, jika memang bahwa
kesempatan itu hanyalah sebuah angan semu dariku, maka biarlah waktu dan hujan
kali ini menyimpan segala kenangan dan seluruh rahasia yang selama ini
kudustakan. Ditengah harapku, kisah ini hanya menjadi sebuah kisah semu pada
rangkaian setiap tulisanku. Aku tak berharap bahwa ini akan benar-benar menjadi
suatu hal yang nyata dihadapanku. Walau pada kenyataannya, beberapa bagian dari
tulisan ini memang nyata pada akhirnya.

0 komentar