PEREMPUAN [1]
Juli 29, 2017
Perempuan.
Adalah sebuah sajak yang terlahir dari sebuah memori
nan indah dalam benakku. Keinginanku bulat tuk mengupas detail-detail mengenai
makhluk perkasa ciptaan Tuhan yang satu ini. Adalah sebuah keteguhan hati tuk menjangkau
telinga kehidupannya. Terbalut dengan kesabaran yang betapa seringnya
dipanjatkan hanya tuk mengupas lebih jauh dan jelas lagi tentangnya.
Perempuan.
Perihal tentangmu akupun bercerita. Menceritakan segala
memori yang tersimpan jelas dibenakku ini. Sungguh indah dan menawan. Tapi tak jarang
mereka bersedih akan beberapa hal yang kerap kali menggores perasaannya. Sebuah
hasrat yang ada pada hati nan sucinya selalu saja terlihat menjadi sebuah hal
yang salah dimata orang lain. Harapku seisi dunia dapat mengetahui akan
bagaimana perempuan lebih jelasnya itu. Memperlakukan mereka sebagaimana
semestinya mereka diperlakukan.
Perempuan.
Bolehkah aku menceritakan segelintir perihal
bagaimana mereka tersebut? Bolehkah aku menyampaikan sebuah bahasa yang tak
dapat mereka ceritakan sebagaimana mestinya? Bolehkah aku membukakan sebuah
kebohongan terbesar mereka kepada seisi dunia? Bolehkah aku membisikkan sebuah
kata dihati terdalammu bahwa sungguh kau tak tahu arti nyata dari sebuah
perasaan itu sendiri? Dengan mengharap izin darimu, aku harap aku bisa.
Perempuan.
Beberapa dari mereka memiliki aura tersendiri yang
sulit ditebak. Membuat beberapa orang memiliki beberapa perspektif tersendiri
karenanya. Tak jarang kerana sosoknya yang begitu misterius, kian membuat
orang-orang berpikir bahwa mereka berbeda. Tapi walau begitu, mereka kerap kali
pula terjebak dalam sebuah perasaan yang tak semestinya. Perasaan yang pada
akhirnya melahirkan keputusan secara paksa bahwa mereka sendirilah yang salah dari
inti segala masalah.
Perempuan.
Perihal tentangmu akupun tetap bercerita. Membiarkan
segala akal pikirku mengambang di dasar lautan. “Terkadang ada bahasa yang tak
bersuara”, sebuah kalimat yang terus menghantui kemanapun aku memijakkan kaki. Setelah
sekian lama bercengkrama dengan bahasa kalbu, aku perlahan kian mengerti. Atas
dasar waktulah yang selalu saja setia menemaniku tuk mengawali setiap helaan nafas hidup. Kodratinya, sebagian dari mereka beranjak tumbuh seperti itu. Mereka
memiliki segala macam bahasa yang tak mereka ucapkan, lantas mereka tetap ingin
dimengerti seperti biasanya.
Perempuan.
Seiring berputarnya roda kehidupan di alam semesta,
mereka akan tumbuh dewasa dan mengerti akan bagaimana hidup itu. Bergelut dengan
segala macam kisah dan pelajaran-pelajaran hidup yang tiap kali menghampiri jiwa
raga. Tentunya perihal perasaan pun yang kerap kali berjumpa dengannya. Terlebih
dalam halnya perasaan yang tak semestinya dan datang diwaktu yang tak tepat. Baginya,
waktu selalu berbicara yang semestinya. Membuatnya tersadar hingga ia memilih
untuk lebih menjaga hati. Membiarkan segala benih-benih perasaan terkubur dalam
di ruang penantiannya.
Perempuan.
Mereka selalu saja melukiskan sebuah kisah yang
selalu saja tak terbaca jelas oleh orang lain. Membiarkan angan terbang tinggi bersanding
dengan sang langit. Seringkali perasaan dilukai akibat pemahaman sendiri
perihal perasaan. Terjaga di kala fajar dengan hati nan seringan awan di
langit. Bagaimanapun, mereka tetap lebih menjaga kehormatan hatinya, membiarkan
waktu menjadi obat penawar dimana dapat menyampaikan hasrat yang tak sempat
terbaca oleh orang lain diwaktu sebelumnya.
Perempuan.
Makhluk yang tak butuh banyak hal untuk menjadi
sebuah pelengkap dalam hidupnya. Ketika sosok yang lain memilih tuk dihargai,
bolehkah aku meminta dengan kerendahan hatiku agar kau lebih mencoba tuk
menghargai mereka lebih dalam? Menghargai mereka dengan segenap hatimu sahaja. Sebuah
bentuk penghargaan memang tak jarang berakhir dengan baik, tetapi jika mata
hati boleh melihat jauh lebih dalam saja, mengalahkan sebuah keegoisan teramat
keras. Aku rasa, itu bisa menjadi obat yang paling ampuh.
Perempuan.
Bolehkah kau meluangkan sedikit sahaja waktu hanya
tuk merenung tentangnya? Tak perlu mengupas lebih jauh tentangnya, hanya
mencoba agar kau bisa menerjemahkan segala bentuk bahasa kalbu yang telah dikirim
olehnya melalui sinyal-sinyal bintang di malam dingin ini. Perasaan yang justru
terlihat sangat menusuk, yakinlah bahwa tak ada yang tahu betapa pedih tetesan
air mata yang kerap kali mengalir pada diri mereka sendiri. Pada akhirnya,
waktulah yang selalu saja membujuk keteguhan hatinya tuk mengawali pengakuan
pedih darinya.
Perempuan.
Bagaimanapun itu, pada akhirnya mereka lebih memilih
tuk bersandiwara dengan diam, berteman dengan kesendirian dan bersahabat dengan
deraian angin nan lembut menyejukkan hati. Dan dengan segala keteguhan hati
yang mereka miliki, mereka tak diciptakan tuk membenci sebuah perasaan. Segala hal
terlewati dan berharap tak pernah diselimuti oleh perasaan yang sungguh tak
mengesankan. Karena sejatinya, mereka terlahir diselimuti perasaan yang dimana
makhluk lainnya tak seperti dengan mereka. Sungguh istimewa hingga pada
akhirnya hanya mereka sendirilah yang tahu segala ketulusan hati yang mereka
persembahkan.
0 komentar