Kau Berhak Bahagia
Desember 06, 2017pict by :
Langit sore kali ini sungguh bersahabat denganku. Bertingkah
seolah ia tersenyum lebar hanya padaku. Hanya dalam hitungan menit saja, lembayung
senja akan kembali terbenam di ufuk barat. Membuatku teringat bahwa ada satu memori
yang sempat kulupakan pada waktu sebelumnya. Dan hingga saat ini pun belum bisa
kuingat kembali. Ah, lupakan saja. Rasanya sungguh ironis jika suasana indah
seperti ini hanya kuisi dengan mengingat hal yang agak sulit tuk kuingat
kembali, aku hanya akan membuang waktuku. Sebab, aku tidak ingin melewatkan
masa-masa ini untuk yang terakhir kalinya. Walau dalam harapku, akan ada lagi
hari esok untuk bermesraan pada kesendirian seperti kali ini. Ah, pasti aku
akan sangat merindukan ini.
Langit Jogja memang selalu menawan. Tak salah ketika aku dengan
mudahnya jatuh cinta padanya. Adalah hal yang tak pernah aku sangka bahwa
hariku selalu dipenuhi warna-warni kehidupan disini. Setelah melewati saat-saat
yang hanya dipenuhi oleh hitam dan putih. Berbagai masa suram nan mencekik.
Bahkan melewati masa yang tak ada seorangpun tetap berada disisimu dikala
engkau benar-benar tergeletak disaat gelapnya malam tiba. Benar bahwa, Jogja
menjadi satu-satunya pilihan bagiku untuk sesegera mungkin berlari dari
perihnya kehidupan. Pun menjadi obat untuk pemulih dari segala rasa sakit. Berlari
sejauh mungkin hingga aku tidak lagi bersemayam pada bayang gelapmu. Hei, kau
hanya tak tahu betapa sulitnya aku yang harus terus berlari hanya agar aku bisa
mendapatkan tempat yang benar-benar layak untuk aku menetap walau sesaat.
Berharap dipersinggahanku kali ini, akan ada seberkas cahaya yang bisa
membuatku terus melanjutkan hidup bahkan disituasi terburuk sekalipun.
Bercerita mengenai keindahan senja. Aku menyukai senja
seperti saat jatuh cinta pertama kali, tetapi aku tidak menyukai saat dimana
senja harus benar-benar pergi dengan seketika dihadapanku. Perlahan menghilang
meninggalkanku, tanpa ada pamit sebelumnya. Walau memang, bagaimanapun itu,
matahari pun akan tetap berputar mengelilingi bumi. Tetapi setidaknya, kau
(senja) bisa pamit dulu padaku sebelum benar-benar pergi. Seperti aku yang
harus pamit terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat persinggahanku ini. Tak
peduli bagaimanapun rasa sakit yang akan muncul, setidaknya engkau berpamitan
terlebih dahulu. Ah, rasanya kau sungguh tak adil.
Mentari kini perlahan kembali ke tempat peraduannya.
Birunya langit kian memudar seiring berjalannya waktu. Tampak pesona jingga di
ufuk barat. Saat itu pula terlukis lukisan terindah sang Pencipta. Empat puluh
tujuh jam sebelum semuanya benar-benar usai. Saat ketika semuanya telah usai,
kau hanya perlu percaya satu, bahwa hatiku masih akan terus bersemayam di Kota
Pelajar ini. Tak peduli dimana pun kaki akan terus melangkah, bahkan sejauh
apapun itu. Sebab, impianku ialah ingin menua di Kota Gudeg yang penuh akan
keistimewaan ini. Kau pasti tahu ini, bahwa tak akan ada yang pernah tahu
bagaimana episode menarik selanjutnya di dalam setiap cerita kehidupan kita.
Sebagai insan, kita hanya bisa berencana. Tetapi, Sang Pencipta lah sebaik-baik
perencana dari kehidupan ini.
Waktu akan terus berjalan dan aku menikmati kesendirianku
dengan penuh hanya untuk berhitung mundur. Inginku rasanya berteriak sekencang
yang aku bisa, memohon diberi waktu agar senantiasa dapat lebih lama disini. Sebab,
Jogja merupakan saksi terbesar dalam hidupku. Senantiasa memberiku ruang untuk
berekspresi seluas dan sebebas mungkin. Menyadarkanku banyak hal yang selalu
saja kuhiraukan diwaktu sebelumnya. Hiruk piruknya udara senantiasa memberiku
nafas terbaik didalam hidup. Memberi kekuatan untuk tetap kuat menjalani
kehidupan yang semestinya. Menawarkan kesederhanaan dalam bertingkah laku dan
segala hal. Juga, memberi tamparan keras agar aku bisa lebih membuka mata, hati
dan pikiran dengan melihat jauh lebih luas dunia. Karenanya, terimakasih ku tak
pernah terbatas, aku jauh lebih kuat.
Empat puluh tujuh jam sebelum semuanya berakhir. Disaat
mentari sudah ingin benar-benar pergi, isakkan tangis pun tak kalah jauh lebih
memporak-porandakkan hati. Sebab, sore ini sungguh indah. Aku yang tetap duduk
disini dengan menikmati alunan nada yang dipadukan antara deraian air sungai
dan juga sepoian angin. Memandang betapa eloknya langit senja ciptaan Yang
Mahakuasa. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Meninggalkan banyak kenangan yang
akan menjadi pelajaran di masa depan kelak. Tak peduli seindah atau bahkan
seburuk dan sepahit apapun kenangan itu. Sebab, aku akan lebih memilih untuk
selalu mengenangnya. Sembari ditengah harapku bahwa memoriku tak akan pernah
melupakan satu folder yang telah tertata secara rapi ini.
Seperti sedia kala, rasa sakit secara perlahan dapat
membuatmu tumbuh jauh lebih kuat. Patah hati, salah satunya. Tapi, tahukah kau
apa yang jauh lebih sakit dari patah hati? Ialah saat kau harus bergegas
beranjak pergi dari semua orang terkasihmu. Seolah kau memberi luka terdalam
pada mereka. Terlebih bertingkah layaknya kau tak akan kembali lagi untuk waktu
yang lama. Sayangnya, kau berhak bahagia. Melupakan segenap seluruh rasa sakit
hati yang terus menggerogoti hati dan pikiranmu. Berdamai dengan perihnya
kenyataan yang ada. Dan memulai kembali kehidupanmu tanpanya, tapi tidak
tanpa-Nya. Dia akan tetap ada, bahkan saat kau terlelap sekalipun. Maka dari
itu, kau berhak bahagia, hingga panggilan-Nya yang menjadi satu-satunya alasan
untuk kau tidak bahagia.

0 komentar