Bukan Ujian Nasional Yang Harus Kamu Khawatirkan
Maret 23, 2018
Benar
kata beliau, waktuku di hari kemarin sebenarnya tidak hanya kuhabiskan untuk
merasa takut akan ujian yang mana menantiku dihari esok.
***
Sepenggal
memori saat mengulas kembali rintihan kisah putih abu-abu. Menjelang saat-saat
terakhir sebelum menjumpai masa peralihan; katakan saja bahwa waktu berlalu
begitu cepat bagaikan kilat yang menyambar bak mata. Rasa kekhawatiranku pun
kian menumbuh tak tertahankan. Ujian Nasional, hanya itulah kalimat yang kerap
kali memenuhi otak dan pikiranku. Hingga rasanya 24 jam waktu hidupku hanya
untuk berkecumbu dengan tumpukan buku yang memanggil tuk sesegera mungkin
dibaca dan dibaca. Siang dan malam pun kian berganti dengan begitu cepatnya.
Hingga tak kudengar sedikitpun perihal re-rintikkan hujan yang hadir tanpa aku
menyapa sekalipun padanya.
Lantas
dikeheningan malam hadirlah tetamu dari pelosok timur sana dengan sejuta cahaya
nan disertai aura ceria di wajahnya.
"Dek,
ada apa? Kelihatannya sangat gelisah", ujarnya sembari menepuk bahuku
dengan begitu lembut.
"Ah,
maaf kak. Sebenarnya, pikiranku cukup dipenuhi akan beberapa pertanyaan yang
juga disertai bumbu-bumbu ketakutan akan beberapa waktu ke depannya".
"Apa
itu berkaitan dengan Ujian Nasional esok, dek Indah?", tanyanya dengan
secercah senyum manis di bibir indahnya.
"Kukira
demikian kak. Aku takut sebab rasanya alat tempur yang kumiliki tak cukup kuat
tuk menghadapi perang dihari esok. Aku takut bahwa aku akan menjadi salah
seorang yang memilih tuk menyerah bahkan disaat perang belum jua dimulai".
Sungguh,
tetiba disuatu masa aku termenung hingga tiada daya tuk berkata. Diam, tunduk
dan hanyut pada keheningan malam yang dingin saat itu. Hatiku tergores parah,
hingga punggungku pun tak kuasa tuk beranjak dari tempat kediamanku.
"Dek,
bagaimana dengan ngajinya? Udah ngaji dalam seharian ini? Kalau dari kakak sih,
Ujian Nasional itu biasa. Dia sama seperti ujian pada konteks lainnya. Semua
terasa begitu menakutkan diawal cerita, tapi justru begitu sederhana saat kita
telah memilih tuk menjalaninya dengan hati yang senantiasa leluasa menerimanya.
Percaya tidak, bahwa kakak pun seperti kamu sewaktu masih mengenakan seragam
putih abu-abu 5 tahun silam. Betapa terkejutnya kakak saat mengetahui bahwa
ujian yang kakak takutkan diwaktu sebelumnya hanyalah salah satu bentuk dari
batu loncatan menuju kita di hari ini. Tak menutup kemungkinan bahwa ketakutan
akan Ujian Nasional yang tengah dek Indah rasakan saat ini hanya akan menjadi
satu bagian yang justru tidak ada apanya jika dibandingkan dengan ujian hidup
ke depannya. Tidak usah berlarut akan kekhawatiran seperti itu. Toh sebenernya
kita bukannya lebih takut jika tidak menyempatkan sedikit saja waktu tuk
merindu kembali pada-Nya yang mana ialah zat yang Maha Membolak-balikkan hati
tiap manusia? Mendamaikan hati dengan menyebut asma-Nya lebih mulia daripada
harus meratapi segenap ketakutan ujian besok”.
Saat
kulihat ada begitu banyak orang yang kian berlari dan bersembunyi pada pahitnya
kenyataan. Dibalik dinginnya malam pun aku menemukan pembenaran atas diri
sendiri. Rasanya aku terperosok diantara noda sekat yang melekat erat pada
diri. Setiap tapakkan langkah kaki begitu hampa tanpa keikutsertaan-Nya pada
setiap langkahku. Pada malam yang justru dengan dinginnya hingga menusuk
jantungku aku tersadar akan apa yang sesungguhnya tengah menjadi ketakutanku. Sungguh penamparan terbesar menggerogoti akal
pikir hingga nuraniku. Ada begitu banyak waktu yang hanya kuhabiskan tuk
merenungi Ujian Nasional yang kukira begitu menakutkan bagi banyak orang. Tanpa
sadar bahwa aku tak ada waktu walau 10 menit saja untuk kembali menghadap
pada-Nya. Pun begitu pula dengan ujian yang manakala akan silih berganti
menghampiriku. Katanya, aku harus siap bahkan sekalipun badai menerjang
singgasanaku. Sebab aku tersadar bahwa singgasana-Mu lah yang paling agung.
Waktu
berjalan bagaikan awan di langit biru, berlari bagaikan angin menghiasi angkasa
raya. Kini kutemukan pembenaran atas diri yang terlalu fana akan Ujian Nasional
esok. Bahwa waktu akan terus berlalu dan tak akan dapat kembali. Bagaikan
pedang yang jika tak kugunakan dengan baik maka ia akan memenggalku dengan
sendirinya. Kekuasaan tuk mengendalikan diri adalah amanah dari-Nya, bagi
mereka yang percaya akan eksistensi-Nya. Maka kini adalah detik-detik yang
menentukan akan berlabuh kemana diri ini setelah bangku sekolah tak lagi
menjadi tempat bernaung bagi sosok yang tak tahu apa-apa sepertiku.
***
Semangat
teruntuk kalian yang tengah menghadapi rangkaian ujian saat ini dan dibeberapa
waktu mendatang. Sebuah rangkaian kalimat penggugah hati yang ku kutip oleh Kak
Evi Marlina, SELAMAT BERJUANG DAN BERISTIQOMAHLAH HINGGA TAK BERSISA BARANG
SEPUCUK BUSUR PANAHMU. Sebab besar keyakinanku bahwa terdapat sejuta keberanian
yang tak dapat ternilai bahwa kita akan mampu melewati tembok nan tangguh ini!
Sulawesi Selatan, Maret 23, 2018.

0 komentar